Tugas Integrated Life Skill Program BDI PHM

A. TEORI kedua yang
menjelaskan masuknya Islam Indonesia ialah teori Gujarat.
sumber : http://www.rmol.co/read/2018/01/31/324880/Masuknya-Islam-Di-Indonesia:-Teori-Gujarat-

Teori ini
menyatakan bahwa Islam masuk di Indonesia bukan berasal dari Arab atau
Mesir-Afrika tetapi berasal dari Gujarat, India sekitar abad ke-13 M, dibawa
oleh orang-arang yang menjalin kontak dagang antara kedua belah negeri. Boleh
jadi melalui orang-orang Gu¬jarat yang membawa barang-barang dagan¬gan ke
anak-anak Nusantara, tetapi boleh jadi anak-anak Nusantara yang membawa
hasil-hasil pertanian dan rempah-rempah ke sana ikut serta mendalami ajaran
Islam, lalu membawa pulang ke negerinya, atau kedua belah pihak sama-sama aktif
mengembang¬kan ajaran agama baru ini di Indonesia.
Teori ini
didukung oleh Snouck Hurgronje dan J. Pijnapel, dua ilmuan Belanda yang ahli
tentang sejarah Timur Hindia. Teori ini juga didukung oleh sejumlah ilmuan
Eropa dan Amerika lainnya, sehingga dalam bu¬ku-buku sejarah yang ditulis para
oriental¬is, hampir sepakat mengatakan Islam baru tiba di negeri ini abad
ke-13. Meskipun para penulis sejarah lokal seperti Prof. Dr. Ham¬ka, berusaha
membantah teori ini dengan mengatakan Islam masuk di Indonesia se-menjak abad
pertama atau kedua Hijriyah atau sekitar abad ke-7 Masehi, tetapi tidak cukup
didengar karena kurangnya bukti se¬jarah secara formal yang bisa mendukung¬nya.
Teori kedua ini
mengemukakan beberapa bukti, di antaranya ditemukannya batu nisan Sultan
Samudera Pasai Malik al-Saleh ta¬hun 1297. Tanda-tanda fisik batu nisan ini
dihubungkan dengan corak khas batu nisan pekuburan Islam Gujarat-India. Jika
saja nanti pada satu saat ada batu nisan lain lebih tua, maka teori ini bisa
saja berubah. Sejumlah wilayah di kepulauan Indonesia mengklaim sudah menemukan
bukti-buk¬ti dan jejak-jejak penganut agama Islam di wilayahnya lebih awal dari
teori Gujarat ini, tetapi belum diverifikasi lebih jelas akan bukti-bukti
tersebut. Misalnya saja klaim Bu¬ton dan Fakfak, Papua Barat, tetapi sekali
lagi belum bisa dibuktikan secara empiris klaim itu.
Bukti lain yang
dikemukakan sejalan den¬gan teori ini ialah corak Islam tasawuf yang berkembang
di masa awal abad ini, sama dengan Islam yang berkembang di anak be¬nua India,
yaitu Islam yang bercorak sufistik. Pekembangan Islam yang bercorak sufistik
memang dominan di abad ke-13 karena abad ini dapat dikatakan abad kemunduran
dunia Islam setelah sebelumnya mencapai kejayaan dengan predikat The Golden Age
of Islamic Period. Sebelumnya, dunia Islam berhasil mencengangkan dunia dengan
la¬hirnya tokoh-tokoh ilmuan yang luar biasa. Ada sekitar 27 orang ilmuan
tersohor lahir di periode The Golden Age itu, antara lain Jabir ibn Hayyan yang
dikenal sebagai The Father of Chemistry, Al-Khawarismi (The Father of The
Math), Ibn Haitham (The Fa¬ther of Modern Optics), Al-Farabi dan Ibn Sina (Neo
Platonism), Al-Fazari (The Fa-ther of Modern Astrolabe), Al-Razi (The Fa¬ther
of Modern Huspital), Al-Biruni pernah mendapatkan gelar di Barat dengan Word's
First Great Experimenter, dan ilmuan terso¬hor lainnya seperti Ibn Rusyd, dan
sejumlah ilmua lainnya.
Islam yang masuk
di Indonesia menurut para orientalis, ialah Islam yang sudah mun¬dur
kualitasnya karena serbuan pasukan Mongol yang menaklukkan pusat-pusat
ker¬ajaan Islam. Akhirnya dunia Islam berusa¬ha menyembunyikan diri atau
memberikan pembenaran diri dengan mengedepankan ilmu-ilmu tasawuf, seperti yang
dikembang¬kan di India. Islam seperti inilah yang masuk ke Indonesia dalam abad
ke-13. Teori ini dikritik sejumlah ilmuan dengan alasan Is¬lam di Gujarat saat
itu didominasi oleh Mazhab Hanafi sementara yang berkembang di Indonesia Mazhab
Syafi’. Bahkan Gujarat pada saat itu masih dikuasai oleh kerajaan Hindu.
b. Sejarah Wali Songo
sumber : http://sejarahlengkap.com/tokoh/sejarah-wali-songo

Agama Islam menjadi demikian populer dan besar namanya di Nusantara tak lepas dari peran Wali Songo. Pada umumnya Wali Songo berdakwah dan menyebarkan agama Islam di tanah Jawa di abad ke 14. Ada tiga wilayah yang menjadi lokasi para wali untuk menyebarkan dakwahnya di Pulau Jawa, yakni Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban untuk daerah Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah dan Cirebon di Jawa Barat.
Jaman Wali Songo menandakan akhir dari dominasi agama Hindu dan Budha di dalam kebudayaan Nusantara digantikan oleh kebudayaan Islam. Meski banyak tokoh lainnya yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya pulau Jawa, Wali Songo adalah simbolnya. Mereka juga memiliki andil yang cukup besar untuk mendirikan sejumlah kerajaan Islam di Jawa.
Arti Wali Songo
Dalam bahasa Jawa, Wali Songo berarti wali yang sembilan, menandakan jumlah para wali yang ada sembilan. Namun ada pendapat lainnya yang mengatakan bahwa songo/sanga adalah turunan dari bahasa Arab tsana yang berarti mulia.
Ada juga yang menyebutkan bahwa Wali Songo adalah sebuah majelis dakwah kreasi dari Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim di tahun 1404. Tak cuma berdakwah, ajaran Wali Songo memberikan dampak untuk sejumlah budaya baru di masyarakat Jawa, seperti kesehatan, bercocok tanam, perdagangan, kebudayaan, seni, kemasyarakatan sampai ke pemerintahan.
Nama-nama dan Riwayat Para Wali Songo
- Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
Sunan Gresik atau Sunan Thandes adalah keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah keturunan ke-22 dari Rasulullah SAW. Nasab Maulana Malik Ibrahim tercatat dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang merupakan kumpulan catatan dari As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini.
Lahir di Samarkand, Asia Tengah, Sunan Gresik mempunyai tiga orang isteri. Sunan Gresik banyak dianggap sebagai wali yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Selain dakwah, beliau mengajarkan cara baru bercocok tanam untuk mengambil hati masyarakat kebanyakan, yakni mereka yang tersisihkan pada akhir kekuasaan Majapahit.
Krisis ekonomi dan perang saudara saat itu banyak membuat masyarakat Jawa menderita. Sunan Gresik membangun pondokan sebagai tempat menimba ilmu agama di Leran, Gresik untuk memenangkan hati masyarakat. Sebagai pelengkap, ia membangun masjid untuk tempat beribadah. Masjid ini adalah masjid pertama di Pulau Jawa dan masih berdiri hingga sekarang. Nama masjid tersebut adalah Masjid Jami’ Gresik. Sunan Gresik wafat di tahun 1419 dan dimakamkan di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
- Sunan Ampel atau Raden Rahmat
Riwayat mengatakan bahwa Sunan Ampel adalah anak dari Ibrahim Zainuddin Al-Akbar. Ibunya adalah seorang putri Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Champa Terakhir dari Dinasti Ming.
Meski bukan yang pertama menyebarkan Islam di Tanah Air, Sunan Ampel dianggap sesepuh oleh para wali lainnya. Ia memiliki pesantren di Ampel Denta, Surabaya yang menjadi pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa.
Setelah wafat, Sunan Ampel dimakamkan di dekat Masjid Ampel, Surabaya.
- Sunan Bonang atau Makhdum Ibrahim
Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel. Semasa hidupnya, Sunan Bonang kerap berdakwah melalui kesenian agar bisa menarik masyarakat Jawa untuk memeluk agama Islam. Pernah mendengar lagu Wijil atau Tombo Ati yang dipopulerkan oleh Opick? Kedua lagu tersebut adalah hasil karya Sunan Bonang.
Untuk menambah unsur Islami dalam lagu-lagu yang digubahnya, Sunan Bonang memasukkan rebab dan bonang sebagai pelengkap dari gemelan Jawa. Oleh sebab itulah ia mendapatkan julukan Sunan Bonang.
Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525 dan dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.
- Sunan Drajat atau Radem Qasim
Selain Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang, Raden Qasim yang juga putra dari Sunan Ampel dikenang oleh masyarakat di seluruh Tanah Air sebagai Sunan Drajat. Dalam misinya untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, ia menggunakan kegiatan sosial sebagai ujung tombaknya.
Ia mempelopori penyantunan anak-anak yatim dan orang-orang sakit. Selain itu Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat umum. Ia sangat mengedepankan sikap dermawan, kerja keras dan meningkatkan kemakmuran rakyat sebagai pengamalan agama Islam.
Wafat di tahun 1522, Sunan Drajat memiliki banyak peninggalan berarti. Di antaranya adalah Pesantren Sunan Drajat di Desa Drajat, Paciran, Lamongan. Ia juga meninggalkan Gamelan Singomengkok, alat musik yang sering ia mainkan. Kini gamelan tersebut disimpan di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan.
- Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq
Berbeda dibandingkan dengan Wali Songo sebelumnya yang pada umumnya langsung menyentuh masyarakat umum untuk menyebarkan agama Islam, Sunan Kudus memiliki andil yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak. Perannya adalah sebagai panglima perang, penasihat untuk Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim.
Target dakwah Sunan Kudus kebanyakan berada di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Peninggalan Sunan Kudus yang terkenal hingga saat ini adalah Masjid Menara Kudus. Masjid ini memiliki keunikan karena arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus banyak dipercaya oleh masyarakat wafat pada tahun 1550.
- Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
Sunan Giri adalah keturunan langsung dari Maulana Ishaq. Selama hidupnya, ia menimba ilmu Islam dari Sunan Ampel dan bersahabat dengan Sunan Bonang. Peran besarnya dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa adalah mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik.
Pemerintahan inilah yang selanjutnya memiliki peran sebagai pusat dakwah Islam untuk wilayah Jawa dan Indonesia Timur hingga ke Maluku. Anaknya, Sunan Giri Prapen berhasil menyebarkan Islam hingga ke Lombok dan Bima.
- Sunan Kalijaga atau Raden Said
Raden Said atau Sunan Kalijaga adalah anak dari adipati Tuban bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Agama Islam ia pelajari dari Sunan Bonang. Dari Sunan Bonanglah ia belajar menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam.
Kesenian yang kerap ia gunakan untuk berdakwah adalah wayang kulit dan tembang suluk. Banyak masyarakat yang memercayai bahwa tembak suluk Lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul adalah hasil karya Sunan Kalijaga.
c. Sejarah masuknya Islam ke Balikpapan
sumber : http://newsbalikpapan.com/masjid-al-ula-tertua-kota-balikpapan.html
sumber : http://newsbalikpapan.com/masjid-al-ula-tertua-kota-balikpapan.html
Kota Balikpapan adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 946 km² dan berpenduduk sebanyak 535.829 jiwa (20 April 2005). Motto kota Balikpapan yaitu “Gawi Manuntung Waja Sampai Kaputing” (bahasa Banjar) yang artinya adalah ‘apabila memulai suatu pekerjaan harus sampai selesai pelaksanaannya’.
Masjid di kawasan pemukiman mayoritas warga beretnis Bugis – Makassar ini bisa diibaratkan menjadi tonggak sejarah penyebaran agama Islam di Balikpapan. Masjid Al – Ula kemudian menjadi pelopor berdirinya bangunan masjid masjid lain di kota yang mayoritas penduduknya adalah muslim.
Berdasarkan sejarahnya masjid ini berdiri pada masa penjajahan pemerintah colonial Belanda sejak 350 tahun silam. Awalnya masjid ini adalah sebuah tempat ibadah syuro atau mushola yang bentuk fisik bangunannya hanya berupa dinding dan lantai papan kayu dengan beratapkan sirap.
Dulunya, kawasan Kampung Baru adalah lokasi singgah para saudagar Islam asal Sulawesi Selatan, Banjarmasin, Penajam dan Jenebora. Mereka berdagang berbagai keperluan masyarakat kala itu disamping syiar agama Islam di bumi borneo. Untuk lokasi beribadah, kemudian dipilihlah suatu tempat di pinggir pantai untuk pendirian syuro yang kini lebih dikenal dengan nama Masjid Al – Ula.
Patut dimaklumi, Kampung Baru saat itu adalah pusat perdagangan di Kalimantan. Bahkan, Kampung Baru sendiri adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal perkembangan Balikpapan hingga sekarang ini. Namun nama nama pendiri awal dari Masjid Jami’ Al-Ula ini tidak tercatat.
Masjid Al – Ula telah beberapa kali mengalami renovasi dari dulunya hanya bangunan syuro kontruksi kayu menjadi semegah seperti saat ini. Deretan nama nama tokoh Bugis saat itu bermunculan sebagai penggagas renovasi masjid seperti H Ambo Laupe (kepala kampung),H Mandarwasa, H Sakka hingga penggawa Lotong.
Kepala kampung saat ini mewakafkan tanahnya untuk tempat berdirinya syuro Al – Ula hingga secara lisan diberikan melalui imam masjid, KH Jamaluddin Daeng Malewa. Atas dasar hak wakaf sudah diberikan, keduanya merenovasi bangunan syuro serta menetapkan nama Masjid Al – Ula untuk penghormatannya. Penetapan nama Masjid Jami’ Al-Ula terjadi saat renovasi pertama dilakukan.
Tahap renovasi pertama, Masjid A l -Ula memiliki empat pilar penyangga kubah berupa kayu ulin berdiameter ukuran 30 centimeter setinggi 8 meter. Pilar penyangga ini berdiri hanya dengan mempergunakan tenaga manusia secara bergotong royong. Selain itu di depan bangunan masjid terdapat kolam kecil tempat berwudhu (sendang) sebelum melaksanakan sholat wajib maupun sunah. Salah seorang imam syuro ini dulu sempat disemayamkan di samping mi’rab bangunan, sebelum ahli waris memindahkannya ke pekuburan Penajam Paser Utara.
Renovasi kedua dilakukan pada tahun 1962 dengan konstruksi semi permanen. Panitia pembangunan masjid saat itu adalah Panglima Kodam IX Mulawarman R. Soeharyo sebagai Ketua Kehormatan, H. Djafar sebagai Ketua, Said Muhammad sebagai Sekretaris, H.M. Yunus sebagai Bendahara dan H. Bausad dan Asnawie Arbain sebagai Pengawas Keuangan.
Namun ada hal yang mengejutkan saat renovasi kedua Masjid Al – Ula dilakukan yang kala itu terkesan ditunggangi kepentingan politis. Ada ancaman pembunuhan terhadap panitia pembangunan masjid yang datangnya malah dari Ketua kehormatan, Panglima Kodam. Oknum TNI ini diduga telah tersusupi paham komunisme sehingga memaksa agar pembangunan masjid selesai dalam jangka waktu beberapa bulan.
Dengan segala upaya akhirnya panitia masjid berhasil menyelesaikan bangunan masjid dalam kurun waktu empat bulan. Walau pembangunannya pada saat itu masih belum sempurna, masjid sudah bisa difungsikan untuk sholat ibadah lima waktu dan sholat Jum’at setiap pekannya.
Kemudian renovasi ketiga terjadi pada tahun1970-an, dengan perbaikan atap, kubah dan menara masjid serta rumah wakaf untuk imam Masjid Al – Ula. Renovasi keempat pada tahun 1988 yang menjadi perombakan total luas, model bangunan masjid yang kemudian dilengkapi pendidikan Madrasah Al – Ula yang diprakarsai Imam H.M. Munir dan diketuai H.M. Syafri Tuwo.
Pada masa itu bertepatan dengan pergantian pengurus dan panitia masjid, sehingga pembangunan dilanjutkan oleh pengurus baru, H. Sanusi Masse sebagai ketua dan H.M.Yusup sebagai Ketua Pembangunan. Penyelesaian akhir pembangunan pada tahun 2004.
Berjalannya waktu dalam perkembangan masjid, melahirkan sebuah keinginan dari pengurus Masjid Jami’ Al-Ula untuk mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyah dengan dikepalai Daud Ponte.
Cikal bakal Madrasah Ibtidaiyah Al-Ula berawal dari Sekolah Arab pada tahun 1970-an yang dikepalai oleh Abdullah Umar kemudian dilanjutkan Guru Sofyan. Kemudian untuk menuju perkembangan yang lebih baik maka pengurus Masjid Al – Ula mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Al – Ula yang diketuai KH. Muhammad Munir dan selaku Kepala Madrasah Ibtidaiyah Al-Ula, H. Amiruddin K.Ama.
Sudah sepantasnya Masjid Al – Ula menjadi patron sejarah Islam di Kota Balikpapan maupun Kalimantan Timur. Sejak awal berdirinya, masjid ini menyimpan banyak keistimewaan dan keajaiban yang hingga kini terkadang di luar akal serta nalar manusia.
Balikpapan menjadi salah satu kota yang menjadi incaran pengeboman pesawat pesawat sekutu pada masa perang dunia kedua 1941 – 1945. Pasukan pimpinan Negara Inggris ini mengincar basis pertahanan Jepang yang membangun pos pertahanan di kawasan Kampung Baru saat itu.
Salah satu pesawat sekutu menjatuhkan bom aktif yang tepat mengenai pinggiran samping bangunan Masjid Al – Ula. Namun berkat kebesaran Allah SWT bom tersebut tidak meledak. Demikian pula saat kebakaran besar Kampung Baru pada tahun 1948 tidak mampu menjangkau bangunan masjid yang berdempetan dengan bangunan masyarakat.
Puncaknya kala pemberontakan PKI era 65 yang merembet hingga Balikpapan hingga simpatisan faham komunis menyerang setiap masjid yang masih berdiri. Masjid Al – Ula menjadi sasaran pembakaran hingga si jago merah melalap seluruh bangunan masjid. Namun ajaibnya, bangunan dan barang barang masjid tidak hangus terbakar. Hanya barang barang ungsian milik masyarakat sekitar yang terbakar habis jadi abu. Bencana kebakaran tahun 1984 juga tetap tidak mampu meruntuhkan keagungan masjid tertua di Balikpapan ini.
C. Pelajaran Strategi Dakwah Inspirasi dari Para Ulama Terdahulu
sumber : sumber : https://prezi.com/yghcsucmnb1l/substansi-dan-strategi-dakwah-rasulullah-saw-beserta-hikmah-pencerminan-sikap/
sumber : sumber : https://prezi.com/yghcsucmnb1l/substansi-dan-strategi-dakwah-rasulullah-saw-beserta-hikmah-pencerminan-sikap/
Berdasarkan strategi Rasulullah Shalllahu'alaihi Wassalam, hendaknya motivasi dan cara dakwah mencakup poin berikut :
1. Dengan persaudaraan yang telah dilakukan oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar dapat memberikan rasa aman dan tentram.
2. Persatuan dan saling menghormati antar agama
3. Menumbuh-kembangkan tolong menolong antara yang kuat dan lemah, yang kaya dan miskin
4. Memahami bahwa umat Islam harus berpegang menurut aturan Allah Subahanahu Wata'ala
5. Memahami dan menyadari bahwa kita wajib agar menjalin hubungan vertikal dengan Allah swt dan horizontal antara manusia dengan manusia
6. Kita mendapatkan warisan (kewajiban berdakwah/menolong agama Allah dengan menyeru pada kebaikan) yang sangat menentukan keselamatan kita baik di dunia maupun di akhirat.
7. Menjadikan inspirasi dan motivasi dalam menyiarkan agama Islam
8. Terciptanya hubungan yang kondusif
D. Dakwah Saat Ini
1. Dengan persaudaraan yang telah dilakukan oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar dapat memberikan rasa aman dan tentram.
2. Persatuan dan saling menghormati antar agama
3. Menumbuh-kembangkan tolong menolong antara yang kuat dan lemah, yang kaya dan miskin
4. Memahami bahwa umat Islam harus berpegang menurut aturan Allah Subahanahu Wata'ala
5. Memahami dan menyadari bahwa kita wajib agar menjalin hubungan vertikal dengan Allah swt dan horizontal antara manusia dengan manusia
6. Kita mendapatkan warisan (kewajiban berdakwah/menolong agama Allah dengan menyeru pada kebaikan) yang sangat menentukan keselamatan kita baik di dunia maupun di akhirat.
7. Menjadikan inspirasi dan motivasi dalam menyiarkan agama Islam
8. Terciptanya hubungan yang kondusif
D. Dakwah Saat Ini
sumber : http://majalaharrahman-online.blogspot.co.id/2012/02/mensiasati-kelemahan-dakwah.html

Da’wah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.Da’wah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu dakwah" dan Ilmu Islam" atau ad-dakwah al-Islamiyah[1].
Dari pengertian da’wah dapat kita pahami bahwa da’wah itu merupakan suatu kegiatan mengajak manusia untuk berbuat kebaikan dan melarang manusia untuk melakukan keburukan, jadi pada dasarnya kegiatan da’wh ini sangatlah dianjurkan bahkan diwajibkan bagi seluruh umat islam yang hidup didunia ini.
Dunia itu terus berputar dan akan selalu berputar, maka dari pada itu haripun terus berganti, seiring dengan demikian kemajuan tegnologipun semakin sangat pesat, hal inilah yang menjadi kendala bagi para da’I ataupun peneyeru untuk menyeru umat manusia ke jalan kebeneran. Banyak manusia ini dengan kemajuan teknologi ini menjadi terbengakai dengan kewajibanya sebagai manusia, kemudian lupa akan kewajiabannya terhadap sang pencipta Allah SWT. Hal inilah yang harus dipecahakan oleh para da’I dalam berda’wah, yaitu membuat metode strategi da’wah yang kontemporer serta sesuai dengan keadaan sekarang. Oleh karna itu penulis pada kesempatan kali ini akan mencoba memaparkan sedikit tentang mensiasati kelemahan-kelemhan para da’I dalam berda’wah pada masa kini.
Kelemahan-Kelemhan Da’wah
DR. Hisyam At-thalib dalam bukunya "Dalil Attadrib Al-Qiyadi" (The International Institute of Islamic Thought 1995) mengungkapkan 21 kelemahan gerakan dakwah masa ini. Kelemahan-kelemahan tersebut harus diungkap agar para aktivis dakwah dan qiyadahnya menyadarinya dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang lapang. 21 kelemahan tersebut adalah hal-hal yang sangat prinsip dan menjadi faktor-faktor kemunduran gerakan Da’wah kalau tidak bisa dikatakan sebagai faktor-faktor kehancurannya.
Salah satu kelemhan dakwah di atas adalah tidak adanya system-system yang kurang baik, karna segala Sesuatu itu akan tercapai dengan baik apabila ada system-system yang baik pula dan mendukung, salah satu kelemahan yang 21 itu yang ungkapkan diatas oleh DR. Hisyam At-thalib dalam bukunya "Dalil Attadrib Al-Qiyadi" (The International Institute of Islamic Thought 1995) yaitu kegagalan menerapkan system Syura[2] .Gerakan Dakwah belum mampu menerapkan sistem syura secara utuh dan sempurna. Situasi dan kondisi yang mendominasi berbagai gerakan dakwah adalah sistem “assam’u wat tho’ah” (dengar dan taat). Memang sebagian qiyadah dakwah selalu menyerukan sistem syura. Namun, disayangkan hanya sebatas teori belaka. Pada tataran prakteknya masih jauh panggang dari api. Debat apakah syura itu mengikat atau tidak, khususnya bagi qiyadah juga masih belum tuntas.
Kita butuh kepada sebuah sistem syura yang mengikat, namun terorganisir dengan baik berdasarkan kaedah-kaedah dan dasar-dasar ilmiyah yang mapan. Sebab itu, perlu keterlibatan sebanyak mungkin orang-orang yang credible dan qualified sebagai anggota majelis syura agar kebijakan dan keputusan yang diambil menjadi lebih dekat kepada kebenaran, demikian juga halnya dengan implementasi kebjikan dan keputusan itu.
Sistem syura yang diamanahkan Al-Qur’an itu perlu dipahami secara pasti, bukan dengan konsep yang remang-remang. Kita harus befikir dan bekerja keras untuk memahaminya dengan baik dan maksimal sehingga sampai kepada kesimpulan yang pasti dan yakin, apalagi kita sekarang hidup di zaman yang serba pasti.
Pembahasan probelmatika internal lebih didahulukan daripada pembahasan problematika eksternal karena problem terberat bagi semua jamaah da’wah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah diselesaikan/dikeloladengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan. Problematika internal yang sering dijumpai dalam jamaah da’wah adalah gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktifitas, latar belakang dan masa lau, penyesuaian diri, dan friksi internal. Gejolak kejiwaan sebenarnya merupakan persoalan yang dimiliki oleh semua manusia biasa. Dan yang perlu disadari adalah para aktivis da’wah juga manusia biasa. Gejolak ini tidak bisa dimatikan sama sekali, tetapi perlu dikelola dengan baik agar tidak merugikan dakwah dan aktifis dakwah.
Problematika eksternal dakwah yang bisa menjadi bahayabesar bagi kebaikan bangsa dan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam meliputi problematika spiritual dankultural, problematika moral, dan problematika sistemik.Diantara problematika dakwah di Indonesia yang menyangkut aspek spiritual dan kultural adalah: berhala-berhala modern baik berupa teknologi yang dijadikan rujukan kebanaran, sains yang diabsolutkan, materi yang ditaati, maupun kekuasaan yang dipuja-puja; syirik, khurafat dan tahayul yang masih merebak di masyarakat; globalisasi dan dialektika kultural; serta tradisi baik yang sudah tergerus dan tergantikan dengan budaya negatif efek perkembangan peradaban.
Problematika moral diantaranya adalah minuman keras dan penyahgunaan obat-obatan penyelewenangan seksual,perjudian dan penipuan, serta tindakan brutal dan kekerasan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan problematika sistemik adalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kemiskinan, kebodohan, dan ancaman disintegrasi bangsa.
Jika kekuatan Islam adalah terletak pada ajarannya, maka kekuatan umat islam terletak pada iman/jiwa/hati-nya, dan tentu saja juga pada lahiriahnya. Sedangkan kelemahan dakwah islam adalah disebabkan oleh kelemahan umat Islam yang semakin jauh dengan Allah SWT. Kelemahan ini terutama disebabkan dua hal; Cinta Dunia, dan Takut Mati. Umat Islam yang cinta akan dunia dan mengejar kebahagiaan dunia saja, secara pasti sedang menuju kepada kehancuran, walaupun mereka berjumlah banyak sebagaimana banyaknya buih-buih di lautan[3].
Ada satu perbedaan utama antara da’I dan penceramah, salah satu perbedaanya adalah “seorang penceramah, bertugas menunjukkan manusia ke arah keimanan kepada dasar-dasar agama dan aqidahnya, komitmen terhadap etika islam dan mengamalkan hokum-hukum nya, serta menjelasakan makna ayat maupun hadits. Sementara seorang da’I bertugas menuntut kaum muslimin mencapai tujuan Islam dan risalahnya yang mendunia guna menyelamatkan umat manusia dan membebaskannya dari penghambaan kepada selain Allah. Dia membangkitkan umat islam untuk merealisasikan tujuan-tujuan Islam yang tinggi, seperti tauhid, persatuan, keadilan, kebebasan, dan saling member jaminan (Solidaritas). Dia juga memberi pendidikan islami kepada kaum muslimin tentang akhla, perilaku, dan muamalah, sehingga menjadi pribadi dan masyarakat.[4]”. Jadi kalalah ditarik kesimpulan bahwa seorang da’I itu lebih berat tugasnya dibandingkan seorang penceramah.
TIPS-TIPS MENSIASATI KELEMAHAN DAKWAH
Pada kesempatan kali ini penulis akan mencoaba memberiakan tips serta solusi agar kelemahan dakwah itu dapat kembali menjadi normal dan menjadi kuat kembali dalam artian tidak menjadi lemah. Janganlah kita jadikan bahwa kemajuan teknologi sebaigai penghambat dalam dakwah kita, salah satunya agar dakwah kita diterma oleh orang lain dibutuhkan strategi dan method serta system dakwah yang lebih baik.
Ø Memiliki tekad serta niat yang kuat
Niat ataupun tekad yang kuat merupakan sebuah kunci keberhasilan dalam segala bidang demikaian juga halnya dalam da’wah, niat ini merupakan factor utama yang akan mendukung dan membuat kegiatan da’wah semakin lancar meskipun ada rintangan tapi tidak akan membuat patah semangat, dengan niat pula akan mendapat segala sesuatu apa yang diniatkan, apabila niatnya dalam da’wah itu karna untuk menegakkan kalimat Allah maka yang akan didapat adalah kedua-duanya baik yang bersifat duniawi dan yang bersifat ukhrowi ataupun akhirat kelak, jadi dalam hal ini niat itu adalah landasan utama dalam segala hal terutama dalam da’wah. Hal ini puala diperkuat oleh dalil dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan1) tergantung niatnya2).Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya3) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)”[5].
Ø Memperbaiki system dakwah itu sendiri agar bisa menjadi kokoh kembali
Dalam hal ini para da’i dituntut untuk kerja keras , agar bisa menemukan cara kontemporer agar system dalam da’wah itu kembali baik dan tidak terkontaminasi oleh perkembangan Zaman. “Boleh zaman berubah tapi aqidah janganlah goyah”, inilah satu ungkapan yang harus dipegang oleh para da’I dalam menjalankan da’wahnya, bahkan ukapan ini harus dijadikan sebuah prisip dalam menjalankan da’wah karna dengan ini maka akan timbul sebuah motivasi ataupun dorongan kuat untuk selalu melaksanakan da’wah meski apapun yang terjadi.
Ø Harus memiliki Team Work[6]
Tidak diragukan bahwa harokah dakwah telah berhasil melahirkan individu-individu yang istimewa. Namun persoalan berikut yang muncul ialah saat mereka itu diminta beramal dalam satu tim kerja (team work) untuk melakukan suatu program bersama. Berbagai gerakan dakwah masih saja sampai saat ini dipimpin oleh segelintir orang (itu-itu saja) yang seharusnya sudah diagantikan team work secara jama’i (yakni kepemimpinan kolektif atau kepemimpinan yang silih berganti). Tanpa menyadari bahwa hasil amal jama’i itu pasti lebih afdhal dari pada amal fardi (kerja individu). Implikasinya ialah muncul lingkungan yang tidak kondusif/terbelakang. Faktor penyebab utamanya ialah kepemimpinan tunggal dalam semua aspek kehidupan harokah.
Pada akhirnya, Penulis harus mengambil sebuah kesimpulan dari pembahasan diatas bahwa sesungguhnya da’wah ini merupakan sebuah kegiatan yang sangat diwajibkan karna hal ini merupakan perinta Allah selain daripada itu pula dalam berdakwah itu diperlukan sebuah system agara kegiatan da’wah tetap berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpu. Akhir kata penulis mengucapkan agar kita itu harus selalu siap siaga dalam segala sesuatu terutama dalam menyeru umat manusia agar kembali ke jalan yang benar.
Referensi
1. As-siisiy, Abbas, Bagaimana Menyentuh Hati, (Solo: Era Intermedia,2002)
2. Yahya , muhyiddin bin syaraf nawawi, hadits arba'in nawawiyah ( maktab dakwah dan bimbingan jaliyat rabwah,2007)
3. Takariawan, cahyadi, Tegar Di jalan Dakwah Bekal Kader DaKwah Di Mihrab Daulah, ( Solo: Era Adicitra Intermedia, 2009)
oleh : RIZQI FAUZI YASIN
Komentar
Posting Komentar